Baru sekitar satu tahun lamanya saya memulai berjualan online dengan bergabung di situs-situs e-commerce yang populer di tanah air. Punya pengalaman berjualan offline saja tidak, namun saya amat tertarik untuk mencoba terjun ke putaran bisnis e-commerce Indonesia ini. Tentunya karena saya melihat ada peluang yang terbuka lebar di era digital saat ini untuk memasarkan produk-produk yang akan saya perjualbelikan. Terlebih lagi jika mengingat saya tidak memiliki banyak modal untuk memulai berjualan. Modal yang saya miliki hanya berupa seperangkat gadget dan koneksi internet.

Data statistik di atas diambil dari databoks.co.id. Jika kita perhatikan, jumlah konsumen e-commerce selalu meningkat dari tahun ke tahun. Ini artinya, semakin banyak penduduk Indonesia yang beralih dari belanja secara konvensional ke cara yang lebih modern, yaitu belanja secara online melalui internet.

Jumlah konsumen e-commerce yang selalu meningkat dari tahun ke tahun patut menjadi pemicu bagi kita untuk ikut terjun ke dalam bisnis e-commerce.

A post shared by katadata (@katadatanews) on

Singkat cerita, saya cukup menikmati berjualan online di beberapa situs e-commerce. Yang menarik, dalam satu tahun saja saya dapat merasakan perkembangan yang inovatif dan tepat guna dari masing-masing e-commerce. Fitur inovatif yang sangat membantu saya dalam bertransaksi dengan para pembeli adalah adanya layanan pembayaran dan penarikan dana yang aman. Dan juga yang tidak kalah menarik adalah tersedianya fitur dompet virtual (e-wallet). Sebut saja e-wallet TokoCash milik Tokopedia, Dompet Shopee milik Shopee, BukaDompet milik Bukalapak, dan lainnya yang sejenis. Dengan fitur-fitur tersebut proses transaksi jual beli menjadi lebih mudah, aman dan cepat. Bahkan penarikan dana dari beberapa e-wallet ke rekening bank konvensional tidak dikenakan biaya sepeserpun. Nyaman dan efisien bukan? Satu lagi, berbeda dengan bank konvensional yang biasanya memberlakukan saldo minimal yang harus mengendap, e-wallet tidak berlaku seperti itu alias saldo dapat ditarik hingga 0 (nol).

Kenyamanan dan kemudahan yang saya gambarkan di atas tentu tidak terlepas dari kemajuan teknologi di era digital sekarang ini yang telah melahirkan sebuah bentuk bisnis baru yang bernama Financial Technology (Fintech) atau Teknologi Finansial (Tekfin). Fintech merupakan sebuah inovasi di sektor keuangan yang mengkolaborasikan teknologi informasi dengan transaksi keuangan. Bentuk inovasi ini telah berkembang menjadi layanan yang lebih praktis dan aman.

Dompet virtual dan juga virtual account merupakan segelintir contoh implementasi Fintech dalam hal layanan pembayaran (payment). Ada pula bentuk implementasi Fintech yang memberikan layanan pinjaman (lending). Kemudahan memiliki smartphone atau perangkat genggam pintar yang dibarengi dengan perkembangan infrastruktur membuka peluang bagi siapa saja yang akan melakukan transaksi keuangan meskipun tidak memiliki kemudahan akses ke bank konvensional.

Saat ini pemerintah kita mendukung penuh perkembangan Fintech karena dinilai dapat menjangkau lapisan masyarakat di remote area sekalipun yang notabene masih unbankable. Ini seolah menjadi jawaban atas keterbatasan lembaga keuangan konvensional dalam menjangkau 250 juta jiwa penduduk Indonesia yang tersebar di 17 ribu pulau dari Sabang hingga Merauke.

Menurut Asosiasi Fintech Indonesia, pada tahun 2017 jumlah perusahaan finansial teknologi (Fintech) Indonesia mencapai 153 perusahaan. Sebanyak 40 persen bergerak dalam bidang layanan pembayaran. Sedangkan 23 persen di bidang usaha pinjaman, 12 persen di bidang usaha aggregator dan masing-masing 7 persen di bidang usaha perencanaan keuangan dan crowdfunding. Berikut ini grafik selengkapnya :

Secara garis besar ruang lingkup usaha Fintech di Indonesia terbagi dalam tiga segmen, yakni :

  • Bidang pembayaran digital
  • Bidang pembiayaan bisnis
  • Bidang pembiayaan personal

Nilai transaksi Finansial Technology (Fintech) Indonesia pada 2017 diperkirakan mencapai US$ 18,6 Miliar atau setara dengan Rp 247,65 Triliun dengan nilai tukar Rp 13.300 per dolar Amerika Serikat. Angka ini meningkat 24 persen dari perkiraan tahun sebelumnya, yakni sebesar US$ 15 Miliar. Peningkatan nilai transaksi seiring sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna Fintech di Indonesia seperti terlihat pada grafik di bawah ini :

Fintech Indonesia nampak menjanjikan untuk berkembang. Hal ini yang menjadi fokus utama ekonomi pemerintah kita saat ini. Sehingga tidak heran jika visi ekonomi digital Presiden Joko Widodo adalah ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat transaksi di Asia Tenggara.

Layaknya hal yang baru sudah sewajarnya Fintech di Indonesia mengalami kendala-kendala dalam implementasinya di lapangan. Berikut ini beberapa kendala Fintech yang saya rangkum dari pengalaman pribadi beberapa tahun ke belakang :

Ketidakpercayaan Masyarakat

Tidak dipungkiri bahwasanya sebagian masyarakat kita masih ada yang belum percaya dengan Fintech dari segi keamanan transaksinya. Contoh nyata yang sering saya jumpai adalah sebagai berikut :

Teman saya memesan produk secara online di sebuah marketplace yang bisa dibilang sudah cukup ternama. Setelah selesai melakukan pembayaran ternyata pesanannya ditolak oleh penjual dengan alasan stok habis. Seketika itu biasanya teman saya akan panik. Takut dana yang sudah terlanjur ditransfer akan hilang atau tidak dapat dikembalikan. Padahal dana tersebut otomatis akan masuk ke dalam saldo dompet virtual (e-wallet) miliknya di marketplace tersebut. Tentu saja dana tersebut tidak hilang begitu saja. Akan tetapi dapat dipergunakan untuk memesan produk yang lain atau bahkan ditarik kembali ke rekening bank miliknya tanpa terpotong biaya sedikitpun.

Namun, sikap teman saya tersebut tidaklah mutlak salah. Bisa jadi dia panik karena terpengaruh maraknya kabar-kabar negatif tentang penipuan jual-beli online. Bisa juga disebabkan karena belum berpengalaman berbelanja di marketplace tersebut sehingga belum mengenal betul sistem pembayaran dan penarikan dananya.

Pengawasan OJK

Setahun yang lalu saya sempat mereview beberapa startup Fintech yang bergerak di bidang layanan pinjaman (lending). Namun sayangnya saat itu startup Fintech yang saya review menyatakan belum secara resmi diawasi oleh OJK dengan alasan belum adanya regulasi dari pemerintah tentang layanan pinjaman secara online. Sehingga Otoritas Jasa Keuangan saat itu kebanjiran permintaan pengawasan oleh startup Fintech yang sedang bertumbuh. Resmi diawasi atau tidak oleh OJK tentu sangat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat akan jaminan keamanan transaksi yang difasilitasi oleh sebuah startup Fintech.

Nah, baru sekira di akhir tahun 2016 OJK mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) nomor 77/POJK.01/2016 tentang usaha pinjam-meminjam uang berbasis teknologi. Peraturan yang dikeluarkan oleh OJK tersebut terbilang sangat ketat. Startup Fintech yang bergerak di bidang pinjam meminjam uang (peer to peer lending) diwajibkan untuk mendaftar dan mengurus perizinan kepada OJK. Untuk mendaftar saja sebuah perusahaan startup harus memiliki modal dasar sebesar 1 Miliar dan untuk mengurus perizinan diharuskan memiliki modal yang lebih besar lagi yakni 2,5 Miliar.

Tentu kita sepatutnya menyambut baik Peraturan OJK tersebut demi berkembangnya startup Fintech yang sehat di Indonesia. Terlebih lagi agar dapat terawasi dengan baik dari tindak pencucian uang atau bahkan ke tingkat kriminal untuk pendanaan terorisme.

Akses Internet

Pertumbuhan infrastruktur jaringan internet memang cukup pesat. Namun harus kita akui bahwa jangkauan sinyal dan akses data di Indonesia belum merata.

Kendala ini cukup fatal karena bagaimanapun Fintech sangat mengandalkan koneksi internet untuk dapat berjalan dengan baik.

Mari sejenak kita kesampingkan kendala-kendala di atas. Alihkan perhatian kembali pada potensi perkembangan Fintech di tanah air tercinta Indonesia.

Jika dilihat dari sisi sumber daya manusia, Fintech berisi talenta-talenta muda yang inovatif, penuh kreativitas, dinamis dan responsif dalam menjawab kebutuhan transaksi keuangan secara digital. Kolaborasi antara bank konvensional dengan Fintech pun berlaku dengan sistem simbiosis mutualisme atau dengan kata lain “saling menguntungkan”. Dengan bantuan Fintech seseorang dapat memperoleh pendapatan secara virtual yang kemudian dapat ditarik ke rekening bank konvensional. Sebaliknya perbankan pun akan merasakan manfaat Fintech yang semakin besar, utamanya saat ini di area pembayaran (payment) dan pembiayaan (peer to peer lending).

Melihat potensi dan nilai transaksi Fintech di Indonesia dari semua data-data yang sudah saya tayangkan di atas seolah menjadi jawaban akan mimpi pemerintah yang menargetkan Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020 mendatang. Kita sebagai warga negara yang baik tentu ingin berkontribusi dalam mewujudkan mimpi indah tersebut.

Salah satu cara sederhananya adalah dengan mengenali dan mempercayai Financial Technology (Fintech). Fintech tentu terlahir untuk mempermudah kita dalam melakukan transaksi keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang kita kerjakan, apa yang kita targetkan dapat terwujud secara efektif dan efisien.

Sekian tulisan saya, semoga membantu Anda dalam berkenalan dengan Fintech, salah satu penyokong perkembangan ekonomi digital Indonesia. Mari kita kenali Indonesia dalam Angka.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Kompetisi Blog
“Kenali Indonesia Dengan Data”.

Semua data di atas bersumber dari :
 DATABOKS dan  katadatacoid

14 Comments

Leave a Reply

Show Buttons
Hide Buttons